Pages

Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

Resensi Novel

Resensi Novel



Resensi Novel - Autumn In Paris
Judul Novel : Autumn In Paris
Penulis : Ilana Tan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
Tebal : 280 halaman
Harga : Rp. 43.350,00
Tara Dupont, tokoh utama cerita ini adalah blasteran Paris-Indonesia tetapi ia menyukai Paris dan musim gugur. Tara Dupont juga tinggal di Paris hidup bersama ayahnya dan bekerja sebagai seorang penyiar di stasiun radio yang cukup terkenal. Ia juga mempunyai seorang kakak angkat berkebangsaan Perancis yang ia pikir adalah cintanya.
Sampai akhirnya ia bertemu dengan Tatsuya Fujisawa, seorang arsitek yang sedang bekerja di Paris, teman dari kakak angkat Tara. Tatsuya adalah seorang lelaki Jepang yang membenci musim gugur di Paris, namun pertemuannya dengan Tara mengubah pendiriannya tentang musim gugur di Paris. Ia menyukai musim gugur di Paris karena Tara.
Awalnya, mereka bertemu secara tidak disengaja. Merekapun menjadi semakin dekat dan cocok tanpa disangka-sangka. Masa-masa indah mereka lalui bersama, berjalan-jalan ke tempat-tempat indah di Paris, melihat pemandangan kota Paris yang romantis. Namun sayangnya, takdir kehidupan membuat mereka berada dalam suatu dilema ternyata mereka adalah saudara, mereka memiliki ayah yang sama.
Di saat mereka saling mencintai, ternyata ada saja yang menghalangi mereka.
Tatsuya harus menjauhkan diri dari Tara, walaupun ia merasa itu sangat sulit. Kenyataan yang pahit telah membuatnya bimbang. Sampai akhirnya Tara juga mengetahui kenyataan pahit tersebut... dan cinta mereka berada di dalam cobaan yang berat. Pada akhirnya Tatsuya Fujisawa kembali ke Jepang mengalami kecelakaan sehingga koma dan akhirnya meninggal.
Buku ini merupakan salah satu buku yang patut untuk dibaca. Ceritanya memang menyedihkan dan mengharukan, namun tidak cengeng. Romantisme juga terasa sekali di dalam novel ini. Seperti saat Tatsuya menuliskan perasaan di dalam surat dan mengirimkannya ke radio. Ilana Tan mengemas cerita ini dengan sangat menarik. Jalan ceritanya pun tidak mudah ditebak. Banyak juga pengetahuan mengenai kota Paris, yang mungkin akan berguna bagi kita. Juga ada banyak kata-kata dalam bahasa Perancis yang dapat kita pelajari.
Ilana juga melukiskan pemandangan kota Paris dengan kalimat yang indah, membuat kita menjadi penasaran dengan kota Paris dan ikut membayangkannya. Intinya dari cerita ini bahwa kisah cinta tidak akan selalu indah seperti yang kita bayangkan, hal tak terduga pun dapat terjadi. Namun rasa cinta tidak akan pernah habis sampai kapan pun dan kepada siapa pun.
Keunggulan dari novel ini adalah berbeda dengan novel-novel pada umumnya yang berakhir bahagia, di novel ini berakhir dengan kesedihan. Cerita dari novel ini sangat menyentuh hati, bahkan sampai berlinang air mata. Buku ini pun menceritakan bagaimana indahnya kota Paris saat musim gugur hingga pembaca terbawa suasana.
Sedangkan kekurangan dari buku ini adalah akhir ceritanya sulit ditebak, tidak dapat diduga sama sekali. Dan gaya bahasanya terlalu baku.
Buku ini sudah cukup bagus menggambarkan isi ceritanya,romantis tapi tidak berlebihan. Memiliki akhir cerita yang berbeda dari novel-novel yang ada pada umumnya.

Hasil Diskusi

Hasil Diskusi



Pengaruh Tayangan Mistik dalam Dunia Hiburan
Tayangan mistik/misteri sudah cukup lama berlangsung di televisi komersial kita sebagai salah satu hiburan bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Malah ada stasiun TV yang menyelenggarakan acara mistik/misteri dua kali dalam satu minggu. Untuk tayangan mistik tersebar dibanyak tempat dan waktu, bahkan ada yang menyediakannya pada lewat tengah malam. Mengapa sampai berkepanjangan?
Alasan yang digunakan, klasik: ratingnya tinggi, banyak ditonton orang. Karena itu, iklannya juga banyak. Angka kepenontonan tersebut hanya dijajak dari 8 kota di Indonesia. Itu tidak mewakili pemirsa kota-kota lain, apalagi mewakili pemirsa desa-desa yang jumlahnya puluhan juta orang.
Terpaksalah pemirsa di pedalaman yang pendidikannya rendah menjadi korban. Mereka dijejali dan disuapi tayangan yang bukan keperluan atau kemanfaatan mereka. Iklan-iklan yang disisipkan membuat penonton TV di desa-desa hanya mampu menelan ludah. Bagi mereka, itu tidak terjangkau oleh isi kantong mereka. Uangnya tidak cukup untuk membeli. Bagi yang bependapatan pas-pasan, memaksakan diri untuk berkonsumsi tinggi. Tidak peduli, uang didapat dari mana, kalau perlu korupsi.
Beberapa tahun terakhir, tayangan mistik merebak di tanah air dalam dunia hiburan seperti industri perfilman maupun pertelevisian. Menjamurnya tayangan-tayangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari "tabiat" masyarakat Indonesia, terutama orang Jawa, yang masih kental dengan hal mistik. Gaya hidup atau keyakinan orang Jawa sebelum atau bahkan sesudah Islam masuk ke Jawa memang cenderung pada keyakinan kebatinan daripada keyakinan agama.
Sebelum siaran mistik marak ditayangkan di televisi pada awal 2000. terdapat sejumlah tayangan mistik yang dikemas dalam bentuk sinetron komedi dan nonkomedi.
Sinetron Tuyul dan Mbak Yul serta Jin dan Jun (RCTI) dapat dimasukkan dalam sinetron mistik-komcdi. Si Manis Jembatan Ancol (SCTV) serta Misteri Gunung Merapi (Indosiar) dapat dikategorikan dalam jenis sinetron mistik-nonkomedi. Sinetron-sinetron tersebut merintis jalan bagi sinetron mistik-religius.
Kemudian, muncul tayangan mistik dengan format reality show yang menampilkan sejumlah penampakan maldiluk halus dari ahm gaib. Bila sebelumnya disajikan secara menghibur dalam bentuk drama fiktif, tayangan mistik pada format reality show ditampilkan sebagai hiburan dalam bentuk sensasi yang mendebarkan. Di antaranya, Uka-Uka (TPI), Dunia Lain (Trans TV), dan Percaya Nggak Percaya (AnTV).
Contohnya, "imam" tayangan mistik adalah sinetron Rahasia Ilahi yang ditayangkan pada Ramadan 2003 oleh TPI. Sinetron tersebut diklaim mengambil ide cerita dari kisah-kisah nyata yang dimuat dalam majalah Hidayah.
Pada pertengahan Maret-April 2005, Rahasia Ilahi ditonton 40-50 persen pemirsa. Sejak itu, muncul sinetron dengan tema serupa. Di antaranya. Azab Dunia Ketiga (AnTV), Titipan Ilahi (Indosiar), Azab Ilahi (Lativi), Tuhan Ada di Mana-Mana (RCTI), Kuasa Ilahi (SCTV), Taubat (Trans TV), Takdir Ilahi (TPI), dan Titik Nadir (Trans 7).
Rahasia Simulasi Mistik Rahasia simulasi mistik televisi terletak pada empat tahap simulasi di dalamnya. Tahap pertama, televisi mencerminkan realitas. Dengan demikian, televisi menciptakan bayangan atau cerminan realitas. Mistik disimulasi melalui peristiwa gaib dan irasional. Seakan-akan, realitasnya memangdemikian.
Kedua devisi mengabulkan realitas. Realitas sesungguhnya berusaha disembunyikan melalui teknik-teknik yang dipakai industri pertelevisian. Simulasi mistik menyembunyikan atau menutupi realitas. Meski seakan-akan mirip dan merupakan cermin dari realitas, penggambaran nuansa mistik pada tahap tersebut justru menutupi realitas sebenarnya.
Ketiga, televisi mengubur realitas. Realitas sesungguhnya tidak lagi muncul dalam pilihan-pilihan representasi Realitas tidak disembunyikan atau ditutup-tutupi, tetapi benar-benar dihapus. Misalnya, pada tayangan reality show, cerita yang dibangun seolah-olah menyerupai realitas. Padahal, cerita itu justru menghapus realitas.
Keempat, realitas dalam televisi menggantikan realitas sesungguhnya. Realitas yang dibangun televisi tidak memiliki rujukan apa pun selain dirinya sendiri. Televisi melegitimasi realitas yang dibuatnya tanpa rujukan tersebut dengan rutinitas dan masifhya penayangan.
Di sisi lain, simulasi mistik religius dalam industri pertelevisian menandai terputusnya hubungan antara umat dan ulama. Selanjutnya, konsep keduanya tergantikan jalinan hubungan antara konsumer dan selebriti. Peran ulama sebagai warasatul anbiya (pewaris para nabi) yang menyerukan secara terus-menerus ajaran suci kebaikan dan kebenaran agama perlahan pupus karena diambil alih televisi. Melalui ustad atau ulama selebriti, produk industri televisi, agama diterjemahkan dalam versi yang menghibur (religKfciinment) sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan industri terhadap komoditas.
Tayangan mistis ini sama sekali tidak mendidik masyarakat Indonesia atau tayangan reality show yang nyatanya lebih banyak direkayasa daripada menunjukkan kondisi sebenarnya. Maraknya tayangan yang berbau mistik di berbagai stasiun televisi tidak membawa dampak positif bagi masyarakat. Hantu ditayangkan di televisi. Apa manfaatnya bagi masyarakat ?
Ada pihak yang mengatakan karena penonton suka, maka dapat menyedot iklan yang lebih banyak sehingga pendapatan televisi meningkat. Namun demikian, tidaklah bijaksana jika semua hal yang disukai masyarakat, meskipun tidak mendidik, ditayangkan di tv untuk dijadikan sebuah acara hiburan.
Menurut sumber yang kami dapatkan, ternyata tayangan yang berbobot seperti Discovery Channel tidak disukai oleh penonton dan akhirnya usaha pertelevisian menyerah dengan menayangkan kembali acara yang mungkin dianggap kurang berbobot, tetapi disukai banyak orang.
Untuk itu, pihaknya meminta media massa supaya tidak mengeskpose masalah pornograsfi dan mistik. Media massa seharusnya berperan untuk menumbuhkembangkan jiwa yang sehat dengan memberikan informasi yang baik dan bukannya merusak akhlak dan moral anak-anak bangsa.
Pelanggaran yang dilakukan televisi terkait tayangan seram itu berupa aspek kengerian. Koordinator Bidang Isi Siaran mengatakan, acara mistis yang selama ini ditayangkan televisi lebih menonjolkan unsur-unsur gambar, bukan unsur mistisisme. Gambar tersebut dibuat-buat, direkayasa, sehingga ada ketidakjujuran untuk mengatakan rekayasa. Selama orang Indonesia masih percaya pada ketuhanan, maka tayangan mistis akan tetap ada sebagai bagian kegaiban. Program acara mistis merupakan duplikasi mentah-mentah tayangan serupa dari luar negeri. Padahal acara tersebut dari negara asalnya dibuat untuk mengolok-olok eksistensi Tuhan dan hal gaib. Saat orang luar sedang menertawakan adanya hantu, Tuhan, dan segala macam kegaiban, dengan program-program semacam itu, orang Indonesia melihatnya sebagai program lucu, menarik, dan layak ditiru.
Siaran televisi mengajari anak untuk mengenal kehidupan masyarakatnya dan masyarakat lain. Siaran televisi berfungsi sebagai wahana proses sosialisasi. Anak-anak diajari mengenal nilai-nilai luhur, tetapi mereka juga disuguhi nilai-nilai buruk.
Sebatas yang kami ketahui, dalam dunia ilmiah/akademis di Indonesia sampai saat ini belum memiliki kajian khusus yang mempelajari efek siaran ini terhadap khalayak. Sementara ini yang baru muncul adalah masih sebatas hipotesis atau dugaan sementara mengenai ada-tidaknya, efek siaran tersebut yang belum teruji melalui penelitian, jadi masih belum konklusif. Namun, persoalan bangsa ini berkenaan dengan habit nya dalam mengkonsumsi tayangan-tayangan sinetron dan praktik-praktik media yang cenderung permisif dalam membuat program-program yang tidak mendidik, bahkan merusak akhlak bangsa.

Catatan Kaki

Catatan Kaki



       Tekad dan gerakan Muhammad Ibnu Abdul Wahab ini dimulai dari kampung halamannya sendiri, Najed, terletak di wilayah Saudi Arabia sekarang. Ia dan para pengikutnya dengan penuh semangat, motivasi tinggi dan penuh antusiasme yang menyala-nyala mulai mengkampanyekan pemurnian ajaran-ajaran agama Islam dari segala pengaruh luar dan praktik-praktik yang tidak Islami 7. Dalam perkembangan selanjutnya, ajaran Wahabi ini secara formal diterima dan diadopsi oleh pemerintah Saudi Arabia sebagai paham resmi keagamaan kerajaan.
       Menurut Uthman Bishr, pijar-pijar semngat kaum Wahabi untuk membersihkan Islam dari praktik-praktik pemujaan terhadap orang-orang suci daripraktik-praktik bid’ah, khurafat dan tahyul berlangsung secara keras dan radikal. Radikalisme gerakan mereka terlihat, antara lain, pada cara-cara mereka dengan merusak kompleks pemakaman di Karbala pada tahun 1801, menduduki kota Mekkah pada tahun 1803 dan Madinah pada tahun berikutnya, menghancurkan batu nisan dan membersihkan kota-kota tersebut dari segala jenis praktik-praktik pemujaan kuburan keramat dan penyembahan terhadap orang-orang suci. 8

                7George Antonious, The Arab Awakening: The Story of The Arab National Movement (Beirut: Librarie Du Liban, 1969), hlm. 22.
                Dikutip dalam Philip K. Hitti, History of The Arabs (London: The Macmillan Press, Ltd, 1980), hlm. 740-741.

Senin, 02 April 2012

Pengertian Puisi (Bhs. Indonesia X)


Pengertian Puisi (Bhs. Indonesia X)

Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
William Wordsworth (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.
Percy Byssche Shelly (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling senang dari pikiran-pikiran yang paling senang.
Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
Lescelles Abercrombie (Sitomurang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang serta bermanfaat.

Unsur-Unsur Pembentuk Puisi
Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya adalah pendapat I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry).
Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu

Sense (tema, arti)

Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan).

Feling (rasa)

Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan.

Tone (nada)

Yang dimaksud tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif.

Intention (tujuan)

Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadang-kadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair
Metode Puisi
Untuk mencapai maksud tersebut, penyair menggunakan sarana-sarana yang disebut metode puisi. Metode puisi terdiri dari

Diction (diksi)

Diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin. Penyair mencoba menyeleksi kata-kata baik kata yang bermakna denotatif maupun konotatif sehingga kata-kata yanag dipakainya benar-benar mendukung maksud puisinya.

Imageri (imaji, daya bayang)

Yang dimaksud imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka penyair menggunakan segenap kemampuan imajinasinya, kemampuan melihat dan merasakannya dalam membuat puisi.
Imaji disebut juga citraan, atau gambaran angan. Ada beberapa macam citraan, antara lain

citra penglihatan, yaitu citraan yang timbul oleh penglihatan atau berhubungan dengan indra penglihatan
Citra pendengaran, yaitu citraan yang timbul oleh pendengaran atau berhubungan dengan indra pendengaran
Citra penciuman dan pencecapan, yaitu citraan yang timbul oleh penciuman dan pencecapan
Citra intelektual, yaitu citraan yang timbul oleh asosiasi intelektual/pemikiran.
Citra gerak, yaitu citraan yang menggambarkan sesuatu yanag sebetulnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak.
Citra lingkungan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran selingkungan
Citra kesedihan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran kesedihan

The concrete word (kata-kata kongkret)

Yang dimaksud the concrete word adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama tetapi secara konotatif mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Slametmulyana menyebutnya sebagai kata berjiwa, yaitu kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, yang artinya tidak sama dengan kamus.

Figurative language (gaya bahasa)

Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya. Jenis-jenis gaya bahasa antara lain

perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dll.
Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.
Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.
Personifikasi, ialah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia di mana benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia.
Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama.
Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri.
Allegori, ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, merupakan metafora yang dilanjutkan.

Rhythm dan rima (irama dan sajak)

Irama ialah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dibedakan menjadi dua,

metrum, yaitu irama yang tetap, menurut pola tertentu.
Ritme, yaitu irama yang disebabkan perntentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur.

Irama menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tidak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji) yang jelas dan hidup. Irama diwujudkan dalam bentuk tekanan-tekanan pada kata. Tekanan tersebut dibedakan menjadi tiga,

dinamik, yaitu tyekanan keras lembutnya ucapan pada kata tertentu.
Nada, yaitu tekanan tinggi rendahnya suara.
Tempo, yaitu tekanan cepat lambatnya pengucapan kata.

Rima adalah persamaam bunyi dalam puisi. Dalam rima dikenal perulangan bunyi yang cerah, ringan, yang mampu menciptakan suasana kegembiraan serta kesenangan. Bunyi semacam ini disebut euphony. Sebaliknya, ada pula bunyi-bunyi yang berat, menekan, yang membawa suasana kesedihan. Bunyi semacam ini disebut cacophony.
Berdasarkan jenisnya, persajakan dibedakan menjadi

rima sempurna, yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir.
Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)
Rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.

Berdasarkan letaknya, rima dibedakan

rima awal, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.
Rima tengah, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi
Rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.
Rima tegak yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertikal
Rima datar yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horisontal
Rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.
Rima berpeluk, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)
Rima bersilang, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).
Rima rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa)
Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb)
Rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d)

Pendapat lain dikemukakan oleh Roman Ingarden dari Polandia. Orang ini mengatakan bahwa sebenarnya karya sastra (termasuk puisi) merupakan struktur yang terdiri dari beberapa lapis norma. Lapis norma tersebut adalah
  1. Lapis bunyi (sound stratum)
  2. Lapis arti (units of meaning)
  3. Lapis obyek yang dikemukakan atau “dunia ciptaan”
  4. Lapis implisit
  5. Lapis metafisika (metaphysical qualities)

Majas (Bhs. Indonesia X)



Majas (Bhs. Indonesia X)

Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang. Majas dibagi menjadi beberapa macam, yakni majas perulangan, pertentangan, perbandingan dan pertautan. Dalam artikel ini hanya dijelaskan perbandingan dan pertentangan.

1. Gaya bahasa perbandingan
A. Majas Metafora
Majas metafora adalah gabungan dua hal yang berbeda membentuk suatu pengertian yang baru. Contoh : raja siang, kambing hitam, dll.
B. Majas Alegori
Majas alegori adalah cerita yang digunakan sebagai lambang yang digunakan untuk pendidikan. Contoh : anjing dan kucing, kelinci dan kura-kura, dsb
C. Majas Personifikasi
Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang membuat banda mati seolah-olah hidup memiliki sifat-sifat manusia. Contoh :
- Kereta api tua itu meraung-raung di tengah kesunyian malam jumat pahing.
- awan menari-nari di angkasa
D. Majas Perumpamaan
Majas perumpamaan adalah suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh :
- Bagaikan harimau pulang kelaparan
- Seperti manyulam di kain lapuk
E. Majas Antilesis
Majas antilesis adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan. Contoh :
- Semua kebaikan ayahnya dibalas dengan keburukan yang menyakitkan.
2. Gaya Bahasa Pertentangan
A. Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah suatu gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan. Contoh :
- Ibu itu terkejut setengah mati ketika mendengar anaknya tidak lulus ujian nasional.
B. Majas Ironi
Majas ironi adalah gaa bahasa yang bersifat menindir dengan halus. Contoh :
- Pandai sekali kau baru datang ketika rapat mau selesai
C. Majas Litotes
Majas litotes adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sesuatu yang baik menjadi bersifat negatif. Contoh :
- Mampirlah ke gubuk saya! (padahal rumahnya besar dan mewah

Paragraf Induktif Dan Deduktif (Bhs. Indonesia X)


Paragraf Induktif Dan Deduktif (Bhs. Indonesia X)

Paragraf Induktif : Merupakan sebuah paragraf dimana kalimat utama berada di akhir paragraf.
Paragraf Deduktif : Merupakan sebuah paragraf yang kalimat utamanya berada di awal paragraf.
Berikut contoh paragraf Induktif dan Deduktif.
Paragraf Induktif:
Jangan pernah mematikan komputer langsung dari stop kontak, stabilizer apalagi mencabut langsung kabel power komputer anda, karena kebiasaan tadi bisa merusak komputer baik dari segi Hardware maupun Software. Efek terhadap hardware komputer seperti harddrive rusak pada sektor-sektor tertentu atau bad sector akibat listrik mati mendadak, lalu efek terhadap software seperti hilangnya data atau rusak akibat kebiasaan tadi. Maka untuk mencegah hal itu terjadi baiknya selalu gunakan fitur “shutdown’ pada Komputer anda. Itulah tips mematikan komputer yang benar, agar tidak merusak perangkat keras/lunak komputer.


Paragraf Deduktif:
Beberapa tips mematikan komputer yang benar, agar tidak merusak perangkat keras/lunak komputer. Jangan pernah mematikan komputer langsung dari stop kontak, stabilizer apalagi langsung mencabut kabel power komputer, kebiasaan seperti itu dapat merusak perangkat keras dan lunak komputer. Efek terhadap perangkat keras seperti harddrive rusak pada sektor-sektor tertentu atau bad sector akibat listrik mati mendadak, lalu efek terhadap software seperti hilangnya data atau rusak akibat kebiasaan tadi. Maka untuk mencegah hal itu terjadi baiknya selalu gunakan fitur “shutdown’ pada Komputer anda.


 

(c)2009 NurHikmaa. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger