Biografi Perawi
Abu Umamah Al-Bakhily, nama lengkapnya adalah Abu Umamah Ash-Shady
Al-Bakhily, Ibn Ajalan, Ibn Ribah, Ibn Ma’an Ibn Malik, Ibn Ashar, Ibn
Sa’id, Ibn Qais Ailan Ibn Mudhar, Ibn Najar, Ibn Mu’adalah Ibn Adnan.
Ia termasuk salah seorang sahabat yang masyhur.
Ia meriwayatkan hadis Rasulullah SAW sebanyak 250 hadis. Diriwayatkan
oleh Bukhari sebanyak 5 hadis, dan diriwayatkan oleh Muslim sebanyak
tiga hadis. Hadis-hadisnya banyak diriwayatkan pengarang Kitab Sunan
yang enam.
Dia tinggal di Mesir dan meninggal disana pada tahun 81 atau 86 H. ia
termasuk sahabat paling akhir yang meninggal di Syam dan hadis-hadisnya
banyak dikenal orang-orang Syam.
Penjelasan Hadis dan Ayat Al-Quran yang Berhubungan
Hadis ini menerangkan tiga perilaku penting yang mendapatkan jaminan
surga dari Rasulullah bagi mereka yang memilikinya. Tentu saja, ketiga
perilaku ini harus diiringi berbagai kewajiban lainnya yang telah
ditentukan Islam. Ketiga perilaku tersebut adalah :
1. Orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.
Berdebat atau berbantah-bantah adalah suatu pernyataan dengan maksud
untuk menjadikan orang lain memahami suatu pendapat atau mengurangi
kewibawaan lawan debat dengan cara mencela ucapannya sekalipun orang
yang mendebatnya itu tidak tahu persis permasalahan, karena
kebodohannya. Dan yang lebih ditonjolkan dalam berdebat adalah
keegoannya sendiri sehingga ia berusaha mengalahkan lawan debatnya
dengan berbagai cara.
Sebenarnya, tidak semua bentuk perdebatan dilarang dalam Islam apalagi
kalau berdebat dalam mempertahankan aqidah. Hanya saja, perdebatan
seringkali membuat orang lupa diri, terutama kalau perdebatannya
dilandasi oleh keegoan masing-masing, bukan didasarkan pada keinginan
untuk mencari kebenaran.
Adapun dalam menghadapi orang yang selalu ingin menang dalam setiap
perdebatan, Nabi menganjurkan umatnya untuk meninggalkannya, dan
membiarkannya beranggapan bahwa dia menang dalam perdebatan tersebut.
Dengan berperilaku seperti itu, bukan berarti kalah dalam perdebatan
tersebut, melainkan menang di sisi Allah dan mendapatkan pahala yang
besar, sebagaimana Nabi menyatakan bahwa dijamin surga baginya.
Akan tetapi, dalam hal-hal tertentu, seperti ketika berdebat dengan
orang-orang kafir tentang aqidah, kita harus mempertahankan pendapat
kita dengan menggunakan berbagai cara supaya mereka menyadari bahwa
aqidah kita memang benar dan mereka salah.
Dengan demikian, kapan seseorang harus meninggalkan suatu perdebatan
dan kapan dia harus mempertahankannya sangat bergantung pada kondisi.
Dalam berdebat hendaklah mengetahui dengan jelas motivasi dan
tujuannya, apakah mencari kebenaran atau hanya mencari prestise semata.
Kalau sama-sama mencari kebenaran, diyakini bahwa mereka yang berdebat
tidak akan mempertahankan pendapatnya yang salah, dan tidak saling
menjatuhkan satu dengan yang lain. Namun demikian, meninggalkan
perdebatan adalah paling utama dan pelakunya akan diberi pahala oleh
Allah SWT dengan menempatkannya di surga.
2. Orang yang tidak berdusta meskipun bergurau
Berdusta adalah menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan
sebenarnya. Dusta sangat dilarang dalam Islam. Karena selain merugikan
orang lain, juga merugikan diri sendiri. Banyak ayat dalam Al-Qur’an
yang mencela orang yang suka berdusta, apalagi terhadap mereka yang
mendustakan Allah. Seperti firman-Nya :
Artinya :
“Pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta
terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah di dalam neraka
Jahannam itu ada tempat bagi orang yang menyombongkan diri.”
( QA. Az-Zumar:60)
Sebaliknya, Islam sangat menghargai orang yang bersifat jujur walaupun
dalam bercanda. Orang-orang yang selalu jujur, sekalipun dalam bercanda
sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas dijamin oleh Rasulullah SAW
satu tempat di tengah surga.
Dalam bercanda, seseorang biasanya suka melebih-lebihkan candaannya
untuk mengundang tawa orang yang diajak bercanda. Hal ini membuatnya
merasa puas. Maka dibuatlah gurauan dengan berbagai cara walaupun harus
berbohong. Hal seperti itu, tidaklah benar dalam Islam karena apapun
alasannya berbohong merupakan perbuatan yang dilarang.
Rasulullah SAW bersabda :
وَعَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
: وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ ،
وَيْلٌ لَهُ ، ثُمَّ وَيْلٌ لَهُ
Artinya:
“Dari Bahz Ibn Hakim dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW
bersabda, “kecelakaanlah bagi orang yang menceritakan, tetapi ia
berdusta untuk membuat orang-orang tertawa dengan itu. Kecelakaanlah
baginya ! kemudian kecelakaanlah baginya.”
(Dikeluarkan oleh tiga dan isnadnya kuat)
Kejujuran juga harus selalu dipegang teguh oleh para ahli ilmu jika ia
menghadapi sesuatu yang belum ia ketahui. Secara jujur ia harus
mengatakan bahwa ia tidak tahu. Bahkan para ilmuan salaf (terdahulu)
setiap selesai menulis karya mereka, selalu menulis kalimat Wallahu
a’lam (Allah lebih mengetahui). Pernyataan seperti itu adalah kejujuran
sangat tinggi dari seorang ilmuwan tentang kebodohan dirinya dan
kemahatahuan Allah SWT.
Adapun salah satu cara untuk menjadi orang yang jujur adalah dengan
cara bergaul dengan orang-orang yang dikenal sebagai orang jujur. Hal
ini karena pergaulan sangat berpengaruh terhadap watak dan kepribadian
seseorang. Allah SWT berfirman :
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)
3. Orang yang baik budi pekertinya
Sifat lainnya yang meningkatkan derajat seseorangdi sisi Allah SWT dan juga dalam pandangan manusia adalah akhlak terpuji.
Salah satu risalah Rasulullah SAW beliau memiliki akhlak terpuji,
Rasulullah SAW memberikan suri teladan bukan sekedar memberikan anjuran
atau perintah kepada umatnya. Itulah salah satu sebab keberhasilan
dakwah Rasulullah SAW. beliau memiliki akhlak yang sangat terpuji yang
dikagumi kawan maupun lawannya. Hal itu dijelaskan dalam Al-Quran:
Artinya:
“Sungguh engkau (Muhammad) berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Barang siapa yang ingin berakhlak mulia, ia harus berusaha meniru
akhlak Rasulullah SAW yakni menuruti segala petunjuk yang terdapat di
dalam Al-Quran dan sunnahnya. Ketika Siti Aisyah ditanya tentang akhlak
Rasulullah SAW, dia berkata bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran.
Sifat orang yang berakhlak mulia, diantaranya adalah bermuka manis,
berusaha untuk membantu orang lain dan perkara yang baik, serta menjaga
diri dari perbuatan jahat. Orang yang memiliki sifat seperti itu,
selain dijanjikan surga sebagaimana dinyatakan dalam hadis di atas,
juga dianggap sebagai orang yang paling baik di antara sesama manusia
lain. Rasulullah SAW, bersabda :
وَعَن عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍوبن العاص رضي الله عنهما قَالَ: لَمْ
يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا ،
وَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ : إِنَّ مِنْ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ
أَخْلاَقًا. (متفق عليه)
Artinya:
“Abdullah bin Amru bin Al-Ash r.a berkata, “Rasulullah SAW bukan
seorang yang memiliki perilaku dan perkataan yang keji. Nabi SAW
bersabda, “Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik akhlak (budi
pekertinya).” (H.R. Bukhari dan Muslim)
B. KEJUJURAN MEMBAWA KEBAIKAN
حَدِيثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ/ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ / إِنَّ الصِّدْقَ
يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ/ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
/وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ /حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا /وَإِنَّ
الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ /وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى
النَّارِ /وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ /حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ
كَذَّابًا. (أخررجه البخارى فى كتاب الأدب)
1. Terjemahan Hadis:
Abdullah Ibnu Mas’ud berkata bahwa Nabi SAW bersabda, / ”Sesungguhnya
benar (jujur) itu menuntun kepada kebaikan, / dan kebaikan itu menuntun
ke surga, / dan seseorang itu berlaku benar / sehingga tercatat di sisi
Allah sebagai seorang yang siddiq (yang sangat jujur dan benar). / Dan
dusta menuntun kepada curang, / dan curang itu menuntun ke dalam
neraka. / Dan seorang yang berdusta / sehingga tercatat di sisi Allah
sebagai pendusta”.
(Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab “Tatakrama”)
Biografi Perawi
Abdullah Ibn Mas’ud Ibn Gafil Ibn Habib Al-Hadly, nama kunyah-nya
adalah Abu Abdurrahman. Ia masuk Islam di Mekkah, pernah hijrah ke
Habsyi kemudian hijrah ke Madinah, dan menyaksikan Perang Badar, Bay’ah
Ar-Ridlwan, serta pernah shalat menghadap dua kiblat.
Rasulullah SAW menghormatinya dan memberikan kabar gembira dengan
sabdanya bahwa beliau SAW rida terhadap apa-apa yang diridhai Ibnu Ummu
Abd (Abdullah Ibn Mas’ud) dan membenci apa-apa yang dibencinya.
Pada masa Khalifah Umar Ibn Khattab dan Utsman, ia menjadi qadhi di
Kuffah dan penanggung jawab bait al-mal, kemudian kembali ke Madinah
dan meninggal di Kuffah pada tahun 32 H, dalam usia lebih dari 60 tahun.
Ia telah meriwayatkan 848 hadis. Sebanyak 40 hadis disepakati oleh
Bukhari dan Muslim, Imam Bukhari sendiri dalam 21 hadis, dan Muslim
sendiri dalam 35 hadis.
Penjelasan Hadis dan Ayat Al-Quran yang Berhubungan
Sebagaimana diterangkan di atas bahwa berbagai kebaikan dan pahala akan
diberikan kepada orang yang jujur, baik di dunia maupun kelak di
akhirat. Ia akan dimasukkan ke dalam surga dan mendapat gelar yang
sangat terhormat, yaitu siddiq, artinya orang yang sangat jujur dan
benar. Bahkan dalam Al-Quran dinyatakan bahwa orang yang selalu jujur
dan selalu menyampaikan kebenaran dinyatakan sebagai orang yang
bertaqwa :
Artinya:
“Orang-orang yang dating menyampaikan kebenaran dan melakukannya
(kebenaran itu), mereka itulah orang-orang yang taqwa.” (Q.S. Az-Zumar:
33)
Hal itu sangat pantas diterima oleh mereka yang jujur dan dipastikan
tidak akan berkhianat kepada siapa saja, baik kepada Allah SWT, sesama
manusia, maupun dirinya sendiri. Orang yang jujur akan melaksanakan
segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, serta mengikuti
segala Sunnah Rasulullah SAW, karena hal itu merupakan janjinya kepada
Allah ketika mengucapkan kedua kalimah syahadat.
Sebenarnya, Allah SWT telah memperingati kepada hambanya agar
berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatan karena setiap orang
selalu diawasi dan dicatat segala gerak-geriknya oleh malaikat Rakib
dan “Atid. Allah berfirman :
Artinya :
“Tiada menyatakan sepatah kata pun, melainkan ada pengawas yang selalu siap mencatat (malaikat Raqid Atid)” (Q.S. Qaf: 18)
Oleh karena itu, setiap orang beriman hendaklah tidak asal bicara
apalagi terhadap sesuatu yang belum jelas dan belum ia ketahui
kebenarannya secara pasti. Allah SWT berfirman:
“Janganlah mengikuti pembicaraan apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Israa’: 36)
Jika seseorang berusaha untuk berkata benar, manfaatnya bukan hanya
bagi dirinya tetapi juga bagi orang lain. Begitu pun sebaliknya, jika
seseorang berkata dusta perbuatannya itu selain merugikan dirinya, juga
merugikan orang lain karena tidak akan ada lagi orang yang
mempercainya. Padahal kepercayaan merupakan salah satu moal utama dalam
menempuh kehidupan di dunia. Tanpa kepercayaan seseorang sulit
menemukan kesuksesan, bahkan tidak mustahil hidupnya akan cepat hancur.
Hal itu telah digariskan dalam Al-Qur’an:
Artinya:
“Sungguh celaka orang-orang yang suka berdusta.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 10)
C. ORANG YANG JUJUR MENDAPAT PERTOLONGAN ALLAH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ /مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ
/يُرِيدُ أَدَاءَهَا /أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ /وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ
إِتْلَافَهَا /أَتْلَفَهُ اللَّهُ.(رواه البخارى و إبن ماجه وغير هما)
1. Terjemahan Hadis
“Abu Hurairah r.a, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa
yang menggunakan harta orang lain (untuk berdagang) / dan dia ingin
mengembalikannya, / maka Allah akan (membantu) mengembalikannnya./ Dan
barang siapa mengambilnya dengan maksud untuk merusaknya / Allah pun
akan merusaknya.”
(H.R. Bukhari, Ibnu Majah, dan selainnya)
Biografi Perawi
Nama lengkap Abu Hurairah Ad-Dawsy menurut Hisyam Ibn Al-Kalbi adalah
Umam Ibn Amir Ibn Dzi As-Sarri Ibn Tharrif Ibn Iyan Ibn Abi Sha’b Ibn
Hunaid Ibn Tsa’labah Ibn Sulaiman Ibn Fahn Ibn Ghanan Ibn Daws.
Pada masa Jahiliyah, ia bernama Abd Syams dengan kunyah-nya Abu Aswad.
Kemudian Rasulullah SAW memberi nama Abdullah, dan kunyah-nya Abu
Hurairah. Ini berkaitan dengan kucing, sebagaimana diriwayatkan oleh
Ibn Abd Al-Birr bahwa Abu Hurairah berkata, “Pada suatu hari aku
membawa kucing dalan suatu yang tertutup dan Nabi SAW melihatku dan
menanyakan apa yang kubawa. Aku pun menjawab “kucing”, kemudian Nabi
SAW. Memanggilku, “ya, Abu Hurairah”) Ibunya bernama Maemunah Binti
Syahr.
Abu Hurairah menerima hadits dari Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, Al-Fadl,
Abbas Ibn Abd. Al-Muthalib, Aisyah, dan lain-lain. Adapun orang-orang
yang menerima riwayat darinya adalah : putranya, Al-Muharrar, Ibn
Abbas, Ibn Umar, Anas, Sa’id Ibn Al-Musyyab, Abu Salamah Ibn Abd
Ar-Rahman Ibn Awf. Menurut Al-Bukhari, mereka yang menerima riwayat
darinya mencapai 800 orang lebih. Semuanya merupakan ahli ilmu, baik
dari kalangan sahabat maupun tabi’in.
Abu Hurairah masuk islam pada tahun Khaibar, yaitu pada bulan Muharram
tahun ketujuh Hijrah. Al-A’raj berkata. “Abu Hurairah adalah seorang
sahabat yang banyak menerima hadits dari Rasulullah SAW.
Abu Hurairah termasuk sahabat yang paling banyak hafal hadits Nabi.
Tidak ada sahabat lain yang menyamainya dari segi jumlahnya. Ia
meriwayatkan tidak kurang dari 5.374 hadis. Tiga ratus hadis disepakati
oleh Bukhari dan Muslim. Dan Imam Al-Bukhari sendiri dalam 73 hadis.
Ibnu Umaiyah dari Hisyan Ibn Urwah berkata, “Abu Hurairah meninggal
pada tahun Siti Aisyah meninggal, yakni tahun 57 H.” hal itu
dikemukakan pula oleh Khalifah, Amr Ibn Ali, Abu Bakar dan jamaah,
Damrah Ibn Rabi’ah, dan Hitsam Ibn Abdi pun berpendapat demikian. Abu
Masyar berkata bahwa ia meninggal pada tahun 58 H Abu Hurairah
dikuburkan di Baqi dekat kuburan Asqalam.
Penjelasan Hadis dan Ayat Al-Quran yang Berhubungan
Dalam kehidupan masyarakat, ada sebagian orang yang suka meminjam uang
atau barang kepada orang lain untuk digunakan sebagai penunjang
usahanya. Hal itu dibolehkan dalam Islam dan Allah SWT akan menolong
mereka kalau mereka berniat untuk menggunakannya sebagai penunjang
usahanya dan berniat untuk mengembalikan kepada pemiliknya.
Peminjam tidak berniat menipu pemilik modal dengan menggunakan uang
yang dipinjamnya untuk berfoya-foya sehingga uang tersebut habis begitu
saja dan ia sendiri tidak memiliki uang untuk menggantinya. Hal itu
merugikan pemilik modal karena akan menghentikan usahanya, yang sangat
penting untuk membiayai keluarganya.
Oleh karena itu, setiap peminjam modal hendaknya ingat bahwa harta
tersebut adalah amanat yang dipercayakan oleh pemiliknya kepadanya.
Dalam Islam umatnya selalu diingatkan untuk menjaga amanat yang
dipercayakan kepadanya dan mengambalikan amanat tersebut kepada
pemiliknya, sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya:
“Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu semua agar memenuhi amanat kepada yang berhak menerimanya. (Q.S. An-Nisa: 58)
Begitu pula, seorang peminjam modal, ia harus berusaha sekuat tenaga
untuk menjaga kepercayaan yang diraihnya tersebut dengan cara
mengembalikan modal yang dipinjamnya pada waktu yang telah disepakati.
Jika ia berbuat demikian, pemilik modal akan semakin mempercayainya.
Ini berarti, jika ia memerlukan modal lagi, ia tidak akan mengalami
kesulitan.
Selain akan mendapat predikat shiddiq, sebagaimana dijelaskan dalam
pembahasan terdahulu, ia juga akan dimudahkan oleh Allah SWT. Dalam
setiap usahanya, terutama dalam usahanya untuk mengembalikan modal yang
dimanfaatkan kepadanya.
Sebailknya, apabila dia bermaksud berkhianat, yakni meminjam barang
atau harta tersebut untuk dirusak atau sengaja tidak akan
mengembalikannya Allah SWT akan membalas perbuatan zalim tersebut,
sebagaimana firman-Nya:
Artinya:
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa Allah lalai
dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah
memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata
(mereka) terbelalak”. (QS. Ibrahim: 42)
Hal itu menunjukkan bahwa penuaian suatu amanah sangat penting dalam
kehidupan bermasyarakat. Adapaun khianat (tidak menuaikan amanah) telah
disepakati sebagai perbuatan tercela, baik dalam pandangan Allah maupun
pandangan manusia.
Hal itu karena khianat akan merugikan diri si pengkhianat sendiri dan
orang lain. Apalagi bagi seorang pemimpin atau wakil rakyat yang
memiliki tanggung jawab besar untuk melaksanakan amanat dengan baik.
Setiap jabatan adalah amanat dari rakyat dan hakikatnya dari Allah SWT,
maka seharusnya orang yang dipercayakan memegang suatu jabatan harus
melakukan berbagai ketentuan yang sesuai dengan kehendak dan aspirasi
rakyat, bukan sebaliknya justru mementingkan diri sendiri, lupa diri,
dan mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan rakyat kepadanya.
Tentu saja, amanat bukan saja dimonopoli para pemimpin, sebab bila
merujuk kepada Al-Qur’an, khianat terbagi kepada dua bagian, yaitu
khianat terhadap Khalik (Allah dan Rasulnya) dan khianat terhadap
makhluk.
Berkhianat kepada Allah adalah meninggalkan perintah-Nya dan
melaksanakan larangan-Nya, sedangkan berkhianat kepada Rasul-Nya adalah
meninggalkan Sunnah-Nya. Adapun yang dimaksud mengkhianati amanat
sesama manusia adalah mengingkari atau meninggalkan suatau kesepakatan
atau amanat yang telah diterima dan disepakati bersama atau mungkin
melaksanakannya, tetapi tidak sempurna.
Dengan demikian, setiap orang berpotensi untuk menjadi pengkhianat,
bahkan mungkin sekarang ini, kita termasuk para para pengkhianat, baik
kepada Allah SWT, Rasulullah SAW maupun sesama manusia.
Menurut Dr. Faruq Humadah, berbuat zalim (aniaya) kepada orang lain
termasuk salah satu bentuk khianat karena zalim, sebagaimana khianat,
membahayakan dan mendatangkan kesengsaraan kepada manusia.